Kedatangan Ibu Maya memang tak terduga. Selama tiga tahun pernikahan kami, ia selalu tinggal di kampung halaman, berkunjung hanya pada acara-acara besar. Kini, karena masalah kesehatan suaminya di kota, ia memutuskan untuk tinggal bersama kami. Aku menyiapkan kamar tamu, menata selimut, bantal, dan menyiapkan segala keperluan yang mungkin dibutuhkannya.
Aku menatap suamiku, Arif, yang sedang membaca koran di sofa. Wajahnya berubah menjadi campuran keheranan dan kelegaan. “Bagus, Bu. Kami tunggu saja,” balasnya singkat, lalu kembali menengok koran.
Bab 2 – Penyesuaian Awal
Malam itu, hujan turun deras di atas atap rumah kami yang sederhana di pinggiran kota. Aku sedang menyiapkan teh hangat ketika telepon berdering. Suara di seberang sana terdengar terbata‑bata.
Kami semua bertepuk tangan, merasakan kehangatan yang tidak hanya datang dari teh, melainkan dari ikatan yang terbentuk selama itu. Ketika malam tiba, Ibu Maya melambaikan tangan, menatap kami dengan senyum lembut.
You must be logged in to post a comment.