Sejak hari itu, Li Wei meninggalkan semua jurus pedangnya. Ia menghabiskan tiga tahun hanya untuk menekan qi ke ujung daun pisang, lalu ke permukaan air, lalu ke bayangan bulan di kolam. Ia belajar bahwa dalam setiap goresan tersimpan dua kemungkinan: luka atau ajaran. Dan seorang pendekar tingkat dewa memilih yang kedua.
"Kau masih berpikir seperti pemotong batu," kata Master Chen. "Silat lanjutan bukan tentang merusak. Tapi tentang meninggalkan jejak yang hanya bisa dibaca oleh langit." cersil mandarin lanjutan goresan di sehelai daun
Li Wei memetik sehelai daun dari ranting terdekat. Daun itu masih hijau muda, lentur, berurat halus seperti peta sungai. Sejak hari itu, Li Wei meninggalkan semua jurus pedangnya
Di puncak Kuil Awan Sunyi, seorang tua duduk bersila di atas batu yang licin karena embun. Ia bukan pendekar biasa. Namanya Master Chen Wei—pendekar buta yang konon mampu membaca isi surat musuh hanya dengan meraba tekanan tinta di atas kertas. Dan seorang pendekar tingkat dewa memilih yang kedua
Sang guru lalu meraba daun yang sama. Dengan jari yang halus seperti semut berjalan di atas sutra, ia menggoreskan sesuatu. Tak ada suara. Tak ada gerakan besar. Hanya getaran samar yang membuat ujung daun bergetar sepersekian detik.
"Tulislah karakter Dao (Jalan) di atas daun ini," perintah Master Chen. "Tanpa merobeknya. Tanpa tinta. Hanya dengan goresan qi mu."